Tradisi Kuliner Nusantara Hadir di Sekolah: Semangat Ibu Dwi Sajikan Buras

    Tradisi Kuliner Nusantara Hadir di Sekolah: Semangat Ibu Dwi Sajikan Buras
    Tradisi Kuliner Nusantara Hadir di Sekolah: Semangat Ibu Dwi Sajikan Buras

    Sukabumi, - Semangat seorang ibu di Sukabumi kembali menghadirkan cita rasa tradisi lewat sajian buras, makanan khas yang di Jawa dikenal dengan nama arem-arem. Meski tubuh terasa lelah, persiapan tetap dilakukan demi senyum sang putri tercinta yang akan tampil di acara sekolah besok, Sukabumi, 13 Februari 2026.

    Di dapur sederhana, proses pembuatan buras berlangsung penuh makna. Daun pisang yang sudah dilipat rapi siap menjadi pembungkus, sementara nasi putih hangat dan tumisan sayuran seperti wortel serta kol menjadi isiannya. Semua bahan kemudian dibungkus dengan telaten, menghadirkan aroma khas yang menggugah selera.

    Dalam keterangannya, Ibu Dwi menyampaikan, “Saya ingin anak saya bangga membawa makanan tradisional ke sekolahnya. Buras ini bukan hanya bekal, tapi juga cerita tentang budaya kita, ” ungkapnya.

    Lebih lanjut ia menuturkan, “Di Jawa namanya arem-arem, di sini disebut buras. Walaupun berbeda nama, maknanya sama: makanan sederhana yang penuh rasa kebersamaan, ” tambahnya.

    Meski tubuh terasa letih, semangat tetap terjaga. “Capek badan itu biasa, tapi melihat anak saya senang dan teman-temannya bisa menikmati buras, rasanya semua lelah terbayar, ” jelasnya.

    Ibu Dwi juga menekankan pentingnya pelestarian kuliner tradisional. “Saya berharap generasi muda tidak melupakan makanan tradisional. Lewat acara sekolah ini, saya ingin buras dikenal lebih luas, ” tegasnya.

    Tak hanya soal rasa, buras juga menyimpan filosofi dalam cara pembuatannya. “Membungkus dengan daun pisang itu ada seninya. Selain menjaga aroma, juga mengingatkan kita pada cara orang tua dulu merawat makanan dengan penuh ketelatenan, ” pungkasnya.

    Buras bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan dan kasih sayang. Di banyak daerah, sajian ini hadir dalam acara keluarga, syukuran, hingga perayaan sekolah. Teksturnya yang lembut dengan rasa gurih sederhana membuatnya digemari lintas generasi.

    Lebih dari sekadar kuliner, buras mencerminkan identitas budaya Nusantara: bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan lokal, menjaga tradisi, dan menghadirkan makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita.

    Dengan semangat dan ketelatenan seorang ibu, buras yang sederhana ini berubah menjadi simbol cinta, budaya, dan kebersamaan. Sebuah kisah hangat dari Sukabumi yang menunjukkan bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: seikat buras yang dibungkus penuh kasih.

    tradisi kuliner nusantara hadir di sekolah semangat ibu dwi sajikan buras
    Aa Ruslan Sutisna

    Aa Ruslan Sutisna

    Artikel Sebelumnya

    Generasi Emas, Dade Misbahudin: Waktu Teh...

    Artikel Berikutnya

    Bertemu Menlu Sugiono, Sekjen PBB Dukung...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Ribuan Santri Siap Bela Negara di Siliwangi Santri Camp 2026
    Siliwangi Santri Camp 2026 Siapkan 1.000 Santri Jawa Barat Jadi Generasi Tangguh, Religius, dan Nasionalis
    Jadi Ketum PB IPSI, Sugiono Upayakan Pencak Silat Masuk Kurikulum dan Kian Mendunia
    Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
    Sugiono Pimpin IPSI: Targetkan Pencak Silat Masuk Kurikulum Nasional

    Ikuti Kami