Sukabumi, Jawa Barat — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi ngaliwet tetap menjadi oase kebersamaan bagi masyarakat Sunda. Bagi Raya Nur Aulia, seorang pegiat budaya dan advokat komunitas, ngaliwet bukan sekadar makan bersama di atas daun pisang. Ia adalah simbol kesetaraan, kehangatan, dan filosofi hidup yang membumi.
“Ngaliwet itu bukan soal lauknya, tapi soal duduk sama rendah, makan sama rata. Di situ kita belajar menghargai, berbagi, dan menyatu, ” ujar Raya saat ditemui dalam kegiatan makan bersama di rumahnya Sukamaju Cikakak di Sukabumi, Kamis 08/Januari 2026.
Dalam foto yang diabadikan pada momen tersebut, tampak nasi putih, ikan Asin goreng, sayur daun, dan Jengkol Sepi, juga sambel, tersaji di atas hamparan daun pisang. Tanpa piring pribadi, setiap orang mengambil secukupnya, saling menyuap dengan tangan, dan berbagi cerita di sela-sela suapan. Sebuah piring bermotif bunga turut menambah nuansa tradisional, memperkuat kesan bahwa ngaliwet bukan hanya soal rasa, tapi juga estetika dan nilai.
Raya menekankan bahwa ngaliwet adalah bentuk perlawanan halus terhadap individualisme. “Di sini, tidak ada yang lebih dulu atau lebih banyak. Semua sama. Bahkan anak muda yang biasanya sibuk dengan gawai, bisa larut dalam tawa dan obrolan, ” tambahnya.
Tradisi ini, menurut Raya, layak diangkat sebagai bagian dari kampanye kebudayaan dan penguatan nilai lokal. Ia mengusulkan agar ngaliwet dijadikan agenda rutin di sekolah, kantor, dan komunitas sebagai sarana pemulihan relasi sosial.
Gambar yang ditampilkan dalam berita ini menjadi bukti nyata: ngaliwet bukan hanya tradisi, tapi juga narasi visual tentang kebersamaan yang hangat dan membumi.

Aa Ruslan Sutisna